Minggu, 06 Juni 2010

Pohon Trembesi, Penyelamat Masa Depan

Setiap tahun, terjadi peningkatan suhu yang amat sangat signifikan. Wah.. kalau ingat kalimat ini aja, saya yakin, kalian semua pasti ngeri setengah mati membayangkan bumi kita nanti berubah jadi mesin pemanggang manusia (lebay ih..). Eh tapi bener lho, di zaman yang katanya hampir mendekati ujung manusia ini, salah satu penyebab punahnya populasi manusia secara perlahan-lahan adalah bencana kekeringan yang melanda hampir sebagian permukaan bumi. Apalagi letak negara kita di daerah tropis yang termasuk rawan kering. Ada baiknya kita memulai perbaikan mulai dari diri sendiri.

Mungkin, apa yang saya katakan tadi terdengar klise dan beberapa diantaranya mungkin akan berpendapat,"Ah, kalau sudah dilakukan orang lain, kenapa saya harus?" atau "Kan sudah ada banyak tuh, orang-orang yang gerombolan menanam pohon, saya sih nggak usah lagi. Toh pohonnya bakalan beranak pinak.."

Sayang banget ya, kalau ada orang yang berpendapat kaya gitu.. Padahal, pohon itu salah satu aset penting untuk menjaga kelangsungan hidup kita di dunia. Nah, berhubung diperingatinya Hari Lingkungan Hidup yang jatuh tanggal 5 Juni 2010, saya mau ngasih sedikit info tentang salah satu jenis pohon yang berperan penting dalam kegiatan pelestarian alam. Namanya pohon Trembesi. Apa kalian ada yang sudah pernah mendengar nama pohon itu?

Tadi iseng-iseng saya baca koran Kompas hari ini, terus ada deh gambar pohon yang bikin saya jatuh hati. Hihihi..
Saya lalu cari-cari profilnya. Dan tarraaaaa...

Ternyata eh ternyata, pohon Trembesi, yang nama latinnya dikenal dengan Albizia saman atau Samanea saman, disebut juga Pohon Hujan atau Ki Hujan, merupakan tumbuhan pohon besar dengan ketinggian hingga 20 meter dan tajuknya yang sangat lebar. Pohon Trembesi (Ki Hujan) mempunyai jaringan akar yang luas sehingga kurang cocok ditanam di pekarangan karena bisa merusak bangunan dan jalan.

Akhir-akhir ini pemerintah, dalam rangka gerakan one man one tree, menggalakkan penanaman pohon Trembesi (Ki Hujan) di seluruh wilayah Indonesia karena diyakini dari satu batang Trembesi dewasa mampu menyerap 28 ton karbondioksida (CO2) pertahunnya! Bahkan di Istana Negara, terdapat 2 batang pohon Trembesi yang ditanam oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno yang masih terpelihara dengan baik hingga kini. Secara gitu, pohon Trembesi bisa hidup sampai ratusan tahun!

Pohon Trembesi (Albizia saman) disebut juga sebagai Pohon Hujan atau Ki Hujan lantaran air yang sering menetes dari tajuknya karena kemampuannya menyerap air tanah yang kuat. Dalam bahasa Inggris pohon ini mempunyai beberapa nama seperti, East Indian Walnut, Rain Tree, Saman Tree, Acacia Preta, dan False Powder Puff. Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari Meksiko, Peru dan Brazil namun sekarang telah tersebar ke seluruh daerah beriklim tropis termasuk ke Indonesia.

Mungkin setelah kalian membaca artikel ini, bisa dicari-cari atau mungkin bisa diingat-ingat lagi deh, letak pohon Trembesi (Ki Hujan) di sekitar kalian setelah kalian mengetahui ciri-ciri umumnya. Pohon Trembesi mempunyai batang yang besar, bulat dan tinggi antara 10-20 meter. Permukaan batangnya beralur, kasar dan berwarna coklat kehitam-hitaman. Daunnya majemuk dan menyirip ganda. Tiap helai daun berbentuk bulat memanjang dengan panjang antara 2-6 cm dan lebar antara 1-4 cm dengan tepi daun rata. Warna daun hijau dengan permukaan licin dan tulang daun menyirip. Bunga Trembesi berwarna merah kekuningan. Buahnya berwarna hitam berbentuk polong dengan panjang antara 30-40 cm. Dalam buah terdapat beberapa biji yang keras berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 5 mm berwarna coklat kehitaman.

Pohon Trembesi (Albizia saman) banyak ditanam di pinggir jalan dan pekarangan yang luas sebagai pohon peneduh. Oleh Perum Perhutani, Pohon Trembesi banyak ditanam sebagai peneduh di Tempat Penimbunan Kayu (TPK). Tajuknya yang lebar dan daunnya yang lebat ditambah dengan jaringan akarnya yang luas sehingga mampu menyerap air dengan maksimal, pohon ini dipercaya mampu memberikan kontribusi dalam menanggulangi pencemaran udara dan ancaman pemanasan global. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ir. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, satu batang Pohon Trembesi mampu menyerap 28.442 kg karbondioksida (CO2) setiap tahunnya. Selain itu, di areal teduh yang dipayungi oleh pohon Trembesi suhunya bisa turun 3-4 derajat Celcius.

Batang Trembesi dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Bijinya yang biasa disebut “Mindhik” (Siter atau Godril) selain dapat dibuat makanan ringan (semacam kwaci) juga berkhasiat sebagai obat pencuci perut dengan cara diseduh dengan air panas. Daunnyapun ternyata mempunyai khasiat untuk mengobati penyakit kulit.
Sayangnya pohon ini mempunyai jaringan akar yang besar dan luas sehingga sering kali merusak bangunan di sekitarnya. Selain itu tajuknya yang lebar dan daunnya yang rimbun sering kali menghambat pertumbuhan pepohonan lain yang berada di bawahnya. Tapi, kalau hanya itu yang bisa kita perjuangkan, kenapa tidak? Banyak di sekeliling kita, bangunan-bangunan kosong yang tak terawat karena proyeknya tak kunjung kelar.
Bagi para pembaca, khususnya cooking lovers yang demen banget berkebun, ayo deh, ajak keluarga terdekat untuk membiasakan diri menanam pohon, apapun itu. Mulailah menghiasi halaman rumah sendiri.
Kalau ada Trembesi rimbun di halaman rumah, sekali-sekali memasak di halaman pasti menyenangkan :)

Tak lupa, selamat Hari Lingkungan Hidup :)
Satu pohon, sangat berarti bagi lestarinya hidup di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar